Thursday, January 8, 2015

Artikel Budi Pekerti dalam Mengatasi Kenakalan Remaja




Budi Pekerti Sebagai Alat Untuk Mengatasi Kenakalan Remaja
Agama Hindu mempunyai tujuan yaitu moksarthan jagaditha yakni mencapai kedamaian abadi dengan menyatu kepada Maha pencipta, Ida sang Hyang Widhi Wasa. Untuk mencapai tujuan yang dimasud ada beberapa cara yang bisa ditempuh oleh umat dengan mengacu kepada beberapa sumber sastra yang selalu dijadikan pedoman oleh umat. Ada pun sumber sastra tersebut adalah Tattwa, Etika dan Upacara.
Tattwa hendaknya dijadikan pedoman sebagai landasan berpijak untuk menuju jalannya Dharma, sedangkan Etika / Susila dijadikan petunjuk bertingkahlaku (behavior) umat di dalam menyakini dan memaknai kebesaran dan kekuatan Hyang Widhi dengan Kriya saktinya – Nya berserta manifetasinya, mampu menciptakan alam semesta ini (bhuwana agung) dan manusia sebagai (bhuwana alit)yang memiliki bayu, sabda, dan idep, maka sebagai cerminan rasa hormat dan bakti kepada Maha Pencipta dengan melakukan persembahan memalui upacara. Menyadari kondisi nyata dimaksud tantangan umat kedepan adalah memahami tattwa agama yang dijadikan pijakan dasar untuk menuju jalannya Dharma.
Bila kondisi yang dimaksud dapat ditumbuh kembangkan, serta mampu diselaraskan oleh umat niscaya jalan menuju dharma akan mampu diwujudkan. Kemampuannya itu hendaknya dilandasi oleh penyadaran, bahwa hukum penciptaan yang bersifat kekal adalah Rwa Bhineda  dengan pengakuan bahwa hanya perubahan yang kekal. Ketika muncul adanya perbedaan cara pandang di dalam melakukan penfsiran terhadap tattwa agama disebabkan oleh beberapa faktor seperti tingkat intelektual umat, stratifikasi sosial, kondisi ekonomi, sosial budaya dan adat istiadat hendaknya perbedaan itu mengacu kepada upaya mencari kebersamaan di dalam perbedaan.
Hal ini penting didasari oleh umat Hindu mengingat dewasa ini umat dihadapkan pada kondisi masyarakat yang semakin kritis, tingkat intelektual yang semakin tinggi, serta tuntutan lebih mengedepankan cara berpikir kritis, bijaksana dan lebih demokratis, sehingga mampu memberikan sumbangan nyata kepada bangsa dan Negara, di dalam meghadapi alam keterbukaan yang bersifat global dewasa ini.
Habib (1999 : 176) mengatakan dengan semakin ketatnya persaingan disegala aspek kehidupan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi dan management. Mereka yang lebih mampu dan yang lebih unggullah yang selalu di depan. Oleh karena itu, upaya memahami kemajuan dan pola adaptasi dalam menjalani kemajuan itu mutlak itu diperlukan, dalam kaitannya dengan sejumlah gejala kehidupan yang mewarnai kerasnya tantangan pada jaman modern yang sekarang ini disebabkan munculnya intelektuallisme, yang merupakan akibat langsung dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia cenderung akan mendewakan ilmu pengetahuan dan mengabaikan aspek kehidupan lainnya.
Untuk mencapai tujuan agama tersebut di atas umat Hindu belum mempunyai pemahaman yang jelas terhadap konsep yang terdapat di dalam ajaran agama Hindu, sehingga sering terjadi ketimpangan-ketimpangan baik yang dilakukan anak-anak di sekolah, di rumah maupun di masyarakat. Seperti perkelahian, pelecehan seksual, narkoba, pencurian maupun hal-hal lain yang melanggar norma-norma maupun etika yang berlaku di masyarakat.
Ibrahim (2001 : 11) mengatakan berbagai kejadian antar pelajar SMA di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, telah banyak disiarkan oleh berbagai media masa kadang kala penyebabnya hanya persoalan sepele gara-gara seorang siswi diganggu oleh siswa dari sekolah lain, teman-teman siswa tersebut merasa tersinggung dan solider, persoalan itu diselesaikan dengan kekerasan, selanjutnya menjalar menjadi tawuran antar siswa dari sekolah yang berbeda. Bahkan sampai ada korban yang jatuh, luka parah, dan meninggal dunia akibat dari perkelahian masal antar pelajar teresebut.
Fenomena-fenomena yang lain dari kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dalam bidang informasi yang semakin kompleks, sehingga muncul krisis multi dimensional yang melanda kalangan anak-anak remaja yang berdampak pada dua dimensi yaitu yang bersifat positif dan yang bersifat negatif. Yang bersifat negatif adanya perubahan perilaku anak-anak remaja yang melanggar norma-norma maupun niali-nilai etika agama Hindu yang terdapat di keluarga, di sekolah maupun di masyarakat. Hal ini seperti tidak menghormati orang tua, guru di sekolah, tawuran perkelahian, mabuk- mabukan, kebut- kebutan dengan teman-temannya, penggunaan obat terlarang, pelecehan seksual dan lain- lainnya yang pda hakekatnya merugikan dirinya sendiri, keluarga, sekolah dan masyarakat.
Perilaku anak yang masih duduk di bangku SMP dan SMA yang sedang memasuki masa remaja, yang sedang mengalami “ haus perhatian “ dari orang tua dan lingkungan sekitarnya akan memperlihatkan perilaku menyimpang yng dapat meresahkan masyarakat. Tindakan remaja ini sering menghiasi lembaran majalah dan surat kabar, akibat dari minuman keras, suka berkelahi, terjatuh ke dalam narkotika, terjun ke dunia malam, kebut-kebutan, mabuk-mabukan, terlibat dalam pencurian mobil, perkosaan, penghaniayaan, pelecehan seksual dan lain sebagainya yang merugikan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, akibatnya baik yang membawa penderitaan terhadap si pemakai (para pecandu) maupun akibat – akibat sosial serius di berbagai negara yang akhir-akhir ini cenderung ke arah-akibat yang sangat membahayakan ; terutama karena serbuk, asap dan cairan narkotik mendapat di hati para remaja di mana – mana baik di negara-negara yang telah maju maupun di negara-negara yang sedang berkembang, tidak terkecuali di Indonesia
Para remaja dewasa ini sering terjadi kegoncangan jiwa, akibat dari kehilangan pegangan, itu menimbulkan berbagai ekses, misalnya kenakaalan remaja (juvenile delinquency), penyalahgunaan narkotika dan sebagainya. Dalam pengalaman menghadapi remaja yang dianggap nakal, tidak mau belajar, menentang orang tua, mengganggu keamanan merusak dan lain sebagainya dan mereka yang telah menjadi korban narkotika, terasa sekali bahwa nilai-nilai moral yang dijadikan pegangan terasa kabur, terutama mereka yang tinggal pada keluarga yang tidak mengidahkan ajaran agama dan tidak memperhatikan pendidikan agamanya dan tidak memperhatikan pendidikan agama bagi anak-anaknya”.
Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut maka inti permasalahan yang dihadapi oleh para remaja adalah adanya “kenakalan remaja” (deliquency of childhood) yang pada hakekatnya merugikan dirinya sendiri, keluarganya, sekolah maupun masyarakat. Melihat fenomena tersebut salah satu cara yang dipergunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut jangan sampai berkembang terus akan dapat merugikan masyarakat perlu diberikan Pendidika Budi Perkerti di sekolah dengan maksud memberikan benteng untuk menangkal kejadian-kejadian yang mengganggu ketertiban masyarakat. Agar permasalahannya tidak berkemang lebih luas maka perlu diberikan Pendidikan Budi Pekerti secara dini, untuk menghindari gejala-gejala yang krusial, maka penanaman nilai-nilai Pendidikaan Budi Perkerti yang bersumber dari etika Agama Hindu perlu diberikan secara berkesinambungan, terarah, sistematis dan mempunyai misi dan visi yang jelas sesuai dengan norma-norma serta kaidah-kaidah Agama Hindu, dan perlu dirumuskan tentang kurikulumnya, kompetensi dasarnya, proses pembelajarannya, indikatornya  demikian juga dengan format evaluasinya.
  

No comments:

Post a Comment